Rabu, 27 Maret 2019

Golput Adalah Pilihan, Pilihan Bukanlah Golput


Belum menentukan pilihan atau bahkan tidak memilih sebetulnya adalah pilihan personal tiap individu. Kebingungan dalam menentukan pilihan capres cawapres sejatinya membuat seseorang enggan memilih keduanya, sehingga pilihannya ada pada golput. Padahal ada wacana loh dari Menkopohukam bahwa sese
orang yang mengajak orang lain untuk golput, akan dikenai UU ITE.

Namun, apakah golput menjadi solusi atas ketidakberdayaan kita untuk memilih salah satu dari kedua paslon? 

Tentu saja golput bukan solusi. Golput justru menjadi pilihan yang salah, karena sama saja kita tidak memanfaatkan hak suara kita demi kelangsungan demokrasi kita ke depan untuk menjadi lebih baik lagi. 

Saya pernah mendengar istilah, suara rakyat adalah suara Tuhan. Maka, seyogyanya kita memanfaatkan hak pilih kita karena satu suara sangat berarti bagi kelangsungan demokrasi kita. Bila kita menginginkan pemimpin yang sempurna, kita tidak akan pernah menemukannya.

Diantara kedua paslon, mereka punya kelebihan yang patut kita hargai, dan mereka punya kekurangan yang semestinya juga kita tutupi. Pilihlah sesuai hati nurani. 

Esensinya adalah bahwa golput memang pilihan individu, namun pilihan terbaik bukanlah golput. Pilihan terbaik adalah mereka yang menggunakan hak suara mereka, dengan datang ke TPS pada 17 April nanti, lalu menentukan pilihan satu diantara dua paslon.

Mintalah petunjuk pada Tuhan, salah satunya bagi yang beragama Islam, lakukanlah shalat istikharah dengan harapan diberikan petunjuk oleh Tuhan akan pilihan yang terbaik. 

Semoga, pilihan hanya jatuh pada nomor 01 dan 02, bukan pada nomor 03 (golput).


Salam,

Ilmawan Syah



Selasa, 26 Maret 2019

Hoaks Dijerat UU Terorisme: Kurang Tepatkah?







Beredar kabar dari media, bahwa Menkopolhukam Wiranto mengatakan dalam penanganan berita bohong (hoaks), menggunaan UU Terorisme.

Sepintas agak mengejutkan apa yang disampaikan Menkopolhukam. Karena selama ini mungkin dibenak kita, terorisme itu sesuatu yang menyeramkan, yang menggunakan senjata atau bom dalam melakukan teror.

Namun saya memahami narasi apa yang dimaksud Pak Wiranto. Oke kita bahas ya.

Hoaks itu berita yang tanpa didasari oleh suatu fakta. Benar?

Hoaks atau berita bohong yang diterima khususnya masyarakat awam, akan ditelan mentah-mentah oleh mereka. nah, mungkin inilah alasan kenapa Menkopolhukam mengusulkan UU Terorisme diberlakukan untuk hoaks.

Karena bisa jadi hoaks meneror psikis penerimanya. Selama ini kan hoaks banyak yang bertebaran dan isinya mengandung fitnah.

Oke sampai sini saya rasa kita memahaminya. Lanjut ke UU Terorisme. Apakah cocok hoaks dijerat UU Terorisme?

Saya tidak faham hukum, karena bukan pakar hukum. Namun secara tekstual, saya memahami bahwa agak berlebihan ketika hoaks dijerat dengan UU Terorisme. Karena sekali lagi, kata terorisme itu yanga da dinalar saya adalah sesuatu yang menyeramkan.

Lalu apakah hoaks tidak menyeramkan? Buat saya tidak, karena ini industri 4.0, yang mana manusia harus segera beradaptasi dengannya.

Bila ada berita, jangan langsung percaya. Lihat sumbernya, apakah dapat dipertanggung jawabkan atau tidak. Lalau untuk mereka yang di desa-desa, yang sebagian masih gaptek bagaimana?

Mudah saja. Hampir semua wilayah Indonesia telah terhubung dengan internet. Manfaatkan internet untuk mengakses berita-berita dan cari tahu kebernaran dari sebuah informasi.

lantas, kalo emak-emak atau enyak-enyak yang ga bisa pake gadget bagaimana???

Di desa kan asasnya gotong royong. Tolonglah mereka dengan pengetahuan yang kita miliki, berikan informasi yang valid dan selalu mengutamakan kebenaran.


Oke sekian dulu ya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amiiin

Salam,
Ilmawan Syah


Senin, 25 Maret 2019

Narasi Cebong-Kampret: Ketidakdewasaan Dalam Perbedaan

Istilah cebong-kampret sudah hampir beberapa bulan belakangan ini menjadi trending kata-kata bagi para pendukung kubu 01 dan kubu 02. Pendukung kubu 01 diberi gelar cebong, dan pendukung kubu 02 diberi gelar kampret.

Saya sendiri bingung bagaimana narasi-narasi seperti ini bisa muncul diperhelatan akbar pesta demokrasi negara kita. Padahal 2 narasi tersebut merupakan binatang, yang tak elok disematkan pada manusia.

Agak miris memang ungkapan seperti ini banyak terucap di negara dengan salah satu mayoritas musim terbesar di dunia. Semestinya istilah yang digunakan dapat lebih elok lagi. Bukan cebong, bukan kampret.

Kita harus melihat siapa kita (Indonesia) di mata dunia. Tentu dunia tidak akan tutup mata dengan apa-apa yang terjadi di Tanah Air, termasuk kasak-kusuk narasi seperti ini.

Hemmmm, pilpres 2019 hanya tinggal menghitung hari saja. Tepat 17 April 2019 kita semua akan menggunakan hak suara kita untuk menentukan nasib bangsa untuk 5 tahun ke depan.

Saya rasa cukup penggunaan istilah cebong kampret. Buatlah selalu suasana sejuk menjelang detik-detik Pemilu. Mulai kesampingkan ego kita demi kepentingan bangsa dan negara.

Pilpres hanya 5 tahun sekali. Persahabatan itu semestinya selamanya. Jangan hanya karena alasan berbedanya pilihan di Pilpres, membuat kita rusak tali silaturrahim.

Jaga hati. Cukup itu saja. Karena hati yang bersih mustahil berucap kotor, dan menulis yang uruk. Begitupun sebaliknya.

Wallahu A'lam.


Salam,
Ilmawan Syah


Minggu, 24 Maret 2019

Letak Kebahagiaan, disini (hati) Adanya

Kebahagiaan merupakan harapan bagi setiap insan yang memiliki kehidupan. Tanpa kebahagiaan, hidup seorang insan pun terasa hambar. Karena tujuan hidup memang untuk bahagia, bukan derita.

Sayangnya, kita mungkin memahami bahwa bahagia itu dimulai dari harta, tahta, dan wanita. Kita beranggapan, bila memiliki ketiganya, kebahagiaan kita sempurna. Dan merasa bahwa kitalah yang paling jaya dan paling bahagia.

Padahal, kebahagiaan bukan bersumber dari ketiga faktor di atas. Bahagia terjadi ketika hati (qalbu) kita senantiasa merasa sejuk, tenang, dan tenteram. Toh banyak kan, mereka yang punya tahta, hati mereka tak bahagia? Toh banyak juga mereka yang ounya harta berlimpah tidurnya tak tenang karena khawatir hartanya di rampas? Toh banyak juga mungkin mereka yang punya pasangan yang cantik jelita, mereka tetap saja merasa gundah gulana?

Ya, karena bisa jadi selama ini kita salah mendefinisikan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang apabila kita rasakan kita merasakan ketenangan, ketenteraman, dan kesejukan. Itu semua sumbernya dari hati kita.

Ketika hati tenang, tenteram, dan sejuk, yakinlah bahwa kita akan selalu merasa bahagia, meski hidup yang kita jalani memang tak mudah. Tuhan menitipkan hati untuk meresapi apa yang ada. Termasuk untuk mengingat sang pencipta.

Pada akhirnya, kebahagiaan hanya bisa dicapai, bila kita mensyukuri apa yang diberikan Tuhan, dan hati yang penuh dengan kesejukan, bukan kebencian, bukan keegoisan, bukan kemunafikan.

Semoga, kita senantiasa menjadi insan yang berbahagia dalam hidup kita. Sehingga nilai-nilai kehidupan dapat kita rasakan, yaitu bahwa bagaimana kita mau membahagian orang lain, bila kita sendiri tidak berbahagia.


Salam bahagia,

Ilmawan Syah

Momen Bersejarah: Peresmian MRT

Sebuah sejarah tercipta pada hari ini, tepatnya Minggu, 24 Maret 2019. Proyek yang selama ini diharapkan akhirnya selesai. Presiden RI di dampingi Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan meresmikan MRT.

Perlu diketahui, bahwa MRT sendiri sudah diwacanakan sejak tahun 1985. Lalu pada 2005 Presiden saat itu yakni Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa MRT menjadi proyek nasional. MRT juga merupakan bagian dari kerjasama Indonesia dengan Jepang.

Kita tentunya bangga bahwa saat ini Indonesia memiliki MRT layaknya negara-negara lainnya yang berkembang dan maju. Namun perlu diingat, bahwa MRT diresmikan merupakan kerjasama dari pemerintah masa lalu dan masa kini. Jadi tak bisa juga sebagian pihak mengklaim ini keberhasilannya. Tapi ini semua merupakan keberhasilan kita semua, dari awal di gagas hingga diresmikan.

So, saatnya kita menjadi saksi dari momen bersejarah hari ini. Dan semoga minat masyarakat Indonesia terhadap transportasi publik semakin menggebu, seiring dengan hadirnya MRT.


Salam,
Ilmawan Syah

Sabtu, 23 Maret 2019

Pasca Penembakan di New Zealand

Masih hangat di benak kita, bagaimana sebuah kebrutalan terjadi di sebuah masjid di Selandia Baru yang menewaskan warga muslim.

Saya tak ingin sebut nama pelakunya. Yang jelas, apa yang diperbuatkan melebihi apa yang binatang lakukan. Bayangkan, seekor harimau jika lapar di kerumunan orang, ia hanya akan memangsa satu orang saja untuk menjadi santapannya. Namun lihatlah, apa yang dilakukan pelaku teror di Selandia Baru, lebih bengis dr seekor Harimau lapar. Parahnya lagi, ia (pelaku) merekam dengan sengaja penembakan yang dilakukannya.

Lalu apa titel yang pantas disematkan pada pelaku penembakan? Tentu saja, teroris...

Oke, lupakan sejenak mengenai faktor agama. Secara manusiawi saja, sangat keji apa yg dilakukan pelaku. Puluhan orang syahid dalam peristiwa naas ini.

Kembali lagi ke agama. Bila dari sisi kemanusiaan saja ini merupakan perilaku biadab, lalu dari sisi agama ini merupakan hal yang dibenci Tuhan.

Dalam Islam, Allah amat membenci orang yang membunuh orang muslim, apalagi bila tanpa sebab. Bayangkan, ini puluhan orang yang dibunuh.

Bila ini soal apa agama yang dianut, sangat aneh. Islam selalu mengajarkan kedamaian. Namun Islam selalu menjadi sasaran atau kambing hitam.

Bila ada bom bunuh diri, Islam dikait-kaitnya. Dan bila Islam yang menjadi korban, pelaku tak langsung di cap teroris. Pelaku kemarin disebut Gun Man (Laki2 bersenjata).

Islam mengajarkan kasih sayang, kelembutan, dan cinta.

Akhirnya, Islam tetaplah Islam. Akan senantiasa selalu menebarkan kebaikan dan cinta.
Semoga para Syahid dan Syahidah di Selandia Baru mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah.
Amiin.

Salam,
Ilmawan Syah

Perang kata di Sosial Media

Tak terasa sobat.

Pilpres dan pileg tinggal menghitung hari. Namun ternyata, bukan itu problemnya. Problem sesungguhnya adalah perang kata-kata khususnya di sosial media.

Lalu apa dampaknya bagi Pilpres?

Tentu saja sangat berdampak besar. Millenials, yang bisa jadi menjadi swing voters bisa jadi hampir setiap hari melihat perang kata-kata dari kedua pendukung capres cawapres. Dan tentunya ini akan berpengaruh besar pada pilihan millenial pada gelaran pilpres kali ini.

Pakai istilah perang, berbahaya ga yah? Ah tidak juga. Ini bukan perang dengan gencatan senjata. Ini adalah perang kata-kata, perang retorika. Seharusnya, kita bersyukur adanya adu argumen di sosial media. Hal itu dapat menjadi tolak ukur, bahwa sekarang masyarakat Indonesia sudah peduli dengan nasib bangsa, minimal selama 5 tahun ke depan.

Namun, masyarakat kita harus tetap menjunjung tinggi nilai kesopanan atau tata krama dalam berdemokrasi, dengan tidak saling hujat antar 2 kubu. Perbedaan itu semestinya menyatukan, bukan memisahkan. Jangan sampai sahabat dekat menjadi musuh dekat hanya karena beda pandangan politik dan pilihan.

So, jadilah generasi yang santun dalam berdemokrasi, berpolitik, dan tentunya berwarganegara.

Salam hangat,

IlmawanSyah

Golput Adalah Pilihan, Pilihan Bukanlah Golput

Belum menentukan pilihan atau bahkan tidak memilih sebetulnya adalah pilihan personal tiap individu. Kebingungan dalam menentukan pili...