Tak terasa sobat.
Pilpres dan pileg tinggal menghitung hari. Namun ternyata, bukan itu problemnya. Problem sesungguhnya adalah perang kata-kata khususnya di sosial media.
Lalu apa dampaknya bagi Pilpres?
Tentu saja sangat berdampak besar. Millenials, yang bisa jadi menjadi swing voters bisa jadi hampir setiap hari melihat perang kata-kata dari kedua pendukung capres cawapres. Dan tentunya ini akan berpengaruh besar pada pilihan millenial pada gelaran pilpres kali ini.
Pakai istilah perang, berbahaya ga yah? Ah tidak juga. Ini bukan perang dengan gencatan senjata. Ini adalah perang kata-kata, perang retorika. Seharusnya, kita bersyukur adanya adu argumen di sosial media. Hal itu dapat menjadi tolak ukur, bahwa sekarang masyarakat Indonesia sudah peduli dengan nasib bangsa, minimal selama 5 tahun ke depan.
Namun, masyarakat kita harus tetap menjunjung tinggi nilai kesopanan atau tata krama dalam berdemokrasi, dengan tidak saling hujat antar 2 kubu. Perbedaan itu semestinya menyatukan, bukan memisahkan. Jangan sampai sahabat dekat menjadi musuh dekat hanya karena beda pandangan politik dan pilihan.
So, jadilah generasi yang santun dalam berdemokrasi, berpolitik, dan tentunya berwarganegara.
Salam hangat,
IlmawanSyah
Pilpres dan pileg tinggal menghitung hari. Namun ternyata, bukan itu problemnya. Problem sesungguhnya adalah perang kata-kata khususnya di sosial media.
Lalu apa dampaknya bagi Pilpres?
Tentu saja sangat berdampak besar. Millenials, yang bisa jadi menjadi swing voters bisa jadi hampir setiap hari melihat perang kata-kata dari kedua pendukung capres cawapres. Dan tentunya ini akan berpengaruh besar pada pilihan millenial pada gelaran pilpres kali ini.
Pakai istilah perang, berbahaya ga yah? Ah tidak juga. Ini bukan perang dengan gencatan senjata. Ini adalah perang kata-kata, perang retorika. Seharusnya, kita bersyukur adanya adu argumen di sosial media. Hal itu dapat menjadi tolak ukur, bahwa sekarang masyarakat Indonesia sudah peduli dengan nasib bangsa, minimal selama 5 tahun ke depan.
Namun, masyarakat kita harus tetap menjunjung tinggi nilai kesopanan atau tata krama dalam berdemokrasi, dengan tidak saling hujat antar 2 kubu. Perbedaan itu semestinya menyatukan, bukan memisahkan. Jangan sampai sahabat dekat menjadi musuh dekat hanya karena beda pandangan politik dan pilihan.
So, jadilah generasi yang santun dalam berdemokrasi, berpolitik, dan tentunya berwarganegara.
Salam hangat,
IlmawanSyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar